JURNAL ARSITEKTUR – PRINSIP BERKELANJUTAN PADA ARSITEKTUR VERNAKULAR – Studi Kasus Huma Gantung Buntoi, Kalimantan Tengah

Ave Harysakti 1)

Agung Murti Nugroho, PhD 2)

Jenny Ernawati, PhD 3)

1) Mahasiswa Magister Arsitektur Lingkungan Binaan Universitas Brawijaya Malang dan Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Palangkaraya

2) Dosen Pascasarjana Arsitektur Universitas Brawijaya Malang

3) Dosen Pascasarjana Arsitektur Universitas Brawijaya Malang

Abstraksi:

Isu pemanasan global dan semakin menipisnya sumber daya alam penghasil energi fosil membuat segala bidang untuk bertindak lebih bijaksana dalam memanfaatkan energi dan menghasilkan emisi karbon termasuk dalam bidang arsitektur. Arsitektur Berkelanjutan merupakan respon nyata dari bidang arsitektur untuk lebih dapat menghemat sumber daya alam dan memperhatikan kelangsungan sumber daya alam di masa depan. Arsitektur Vernakular merupakan salah satu sumber untuk mempelajari kearifan tentang berkelanjutan. Pada tulisan ini merupakan hasil penelitian tentang prinsip berkelanjutan pada arsitektur Huma Gantung Buntoi. Menggunakan metode Triangulasi didapatkan hasil bahwa Huma Gantung Buntoi berkarakter fisik arsitektur vernakular dan merupakan bangunan tanggap iklim serta memiliki banyak kearifan bagi pengembangan arsitektur berkelanjutan di era kontemporer ini.

Kata Kunci : Prinsip Arsitektur Berkelanjutan, Huma Gantung Buntoi

[Download Fulltext PDF File]


TATANAN SPASIAL PADA BANGUNAN RUMAH SEMBAU SUKU BULUNGAN DI TANJUNG PALAS KALIMANTAN UTARA

Sholehah 1)

Antariksa 2)

Lisa Dwi Wulandari 3)

1) Mahasiswa Magister Arsitektur Lingkungan Binaan Universitas Brawijaya Malang dan Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Kalimantan Utara

2) Guru Besar dan Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya Malang

3) Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya Malang

Abstraksi:

Rumah Sembau (Rumah Tinggi) merupakan salah satu artefak yang masih berdiri semenjak jaman Kesultanan Bulungan di Tanjung Palas, Kalimantan Utara. Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian tentang tradisi budaya pada arsitektur Rumah Sembau. Menggunakan metodologi penelitian kualitatif-emik, diperoleh hasil bahwa pada tatanan spasial Rumah Sembau banyak dipengaruhi oleh kebutuhan dasar, kepercayaan dan nilai, privasi, kekeluargaan, posisi perempuan, hubungan sosial, dan siklus daur hidup manusia (pernikahan, kelahiran, dan kematian). 

Kata Kunci : Tatanan Spasial, Arsitektur Rumah Sembau

[Download Fulltext PDF File]


JURNAL ARSITEKTUR – SISTEM ORGANISASI KERUANGAN PADA LANSEKAP TRADISIONAL HINDU-KEJAWEN DI DUSUN DJAMURAN, KECAMATAN WAGIR MALANG

Arum Septi Riyani 1)

Antariksa 2)

Jenny Ernawati 3)

1) Mahasiswa Magister Arsitektur Lingkungan Binaan Universitas Brawijaya Malang

2) Guru Besar dan Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya Malang

3) Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya Malang

Abstraksi:

Indonesia merupakan negara kepualauan yang memiliki keanekaragamanan suku serta budaya. Keragaman tersebut juga menjadikan Indonesia kaya akan tradisi dan adat istiadat, hal tersebut
juga didukung oleh kondisi geografis serta bentang alam Indonesia yang akhirnya membentuk pola serta perilaku berkehidupan suatu kelompok masyarakat dalam suku/etnis tertentu. Kemajemukan tersebut tidak hanya terdapat pada bahasa dan adat istiadatnya saja, akan tetapi juga budaya dalam hal bermukim yang melahirkan suatu konsep-konsep arsitektur lingkungan binaan pada suatu daerah tertentu, termasuk didalamnya adalah lansekap tradisional. Penelitian ini akan mengkaji mengenai sistem organisasi keruangan pada lansekap tradisional di Dusun Djamuran Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang dengan menggunakan pendekatan kualitatif, metode etnografi dan environmental mapping. Hasil yang didapatkan dari penelitian tersebut adalah ditemukannya konsep Tri Hita Kirana pada penataan organisasi keruangan lansekap di Dusun Djamuran tersebut.

Kata Kunci : Organisasi keruangan, lansekap tradisional, tri hita kirana

[Download Fulltext PDF File]


JURNAL ARSITEKTUR – ELEMEN-ELEMEN PENDORONG KEARIFAN LOKAL PADA ARSITEKTUR NUSANTARA

Doddy Soedigdo 1)

Ave Harysakti 2)

Tari Budayanti Usop 3)

1, 2, & 3) Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Palangka Raya

Abstraksi:

Negara Kesatuan Republik Indonesia dibentuk oleh wilayah-wilayah yang memiliki bermacam- macam karakteristik, bahasa, nilai-nilai, dan simbol-simbol yang unik dan berasal dari budaya masyarakat Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui elemen-elemen yang mendorong timbulnya kearifan lokal dalam arsitektur di nusantara ini. Menggunakan metode kualitatif-rasionalistik ditemukan hasil bahwa elemen pendorong timbulnya suatu kearifan lokal adalah elemen manusia beserta pola pikirannya, dan elemen alam beserta iklimnya. Terbukti dengan pola pikir mereka yang menghasilkan kebijaksanaan mereka dalam menyusun pengetahuan yang dianggap baik bagi kehidupan mereka seperti hukum adat, tata kelola, dan tata cara untuk aktivitas mereka sehari-hari. Oleh sebab itulah maka kearifan lokal dalam arsitektur menjadi sangat penting perannya dalam menjaga dan mempertahankan kelestarian budaya Indonesia.

Kata Kunci : Kearifan Lokal Arsitektur, Arsitektur Nusantara

[Download Fulltext PDF File]


JURNAL ARSITEKTUR – KARAKTERISTIK ARSITEKTURAL RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA PALANGKA RAYA

Amiany 1)

Rony Setia Siswadi 2)

Lisa Virgiyanti 3)

1 & 2) Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Palangka Raya

       3) Dosen Tetap Jurusan Pertambangan Universitas Palangka Raya

Abstraksi:

Ruang Terbuka Hijau (RTH) hadir sebagai sebuah kebutuhan utama bagi masyarakat perkotaan yang setiap harinya kehidupannya dipenuhi dengan aktivitas rutin. Namun ketersediaan RTH kota yang dirasakan kurang, menjadikan RTH sebagai sesuatu yang langka, padahal terdapat berbagai macam peraturan yang dibuat pemerintah perihal keberadaan RTH tersebut. Publik merupakan sekumpulan orang-orang tak terbatas siapa saja, dan space atau ruang merupakan suatu bentukan tiga dimensi yang terjadi akibat adanya unsur-unsur yang membatasinya. Berdasarkan Keputusan Presiden No.32 tahun 1990, tentang pengelolaan kawasan lindung Bab I Pasal 1 ayat 7 menjelaskan bahwa tepian sungai seharusnya memiliki sempadan sungai yaitu kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Namun pada kenyataan yang ada saat ini di lokasi penelitian di tepian Sungai Kahayan (DAS) Kahayan ini justru ditutupi oleh permukiman penduduk tanpa adanya Ruang Terbuka Hijau seperti yang diharuskan dalam peraturan tersebut. Metode pada penelitian ini menggunakan penelitian secara kualitatif. Dalam penelitian ini pada hakekatnya dimaksudkan untuk mengangkat fakta, keadaan, variabel, dan fenomena-fenomena yang terjadi lebih mendalam terhadap aspek fisik keberadaan Ruang Terbuka Hijau yang berada di Kota Palangka Raya karena ternyata kota ini sudah tumbuh berkembang kawasan permukiman padat padahal sejak awalnya memang peruntukan tanah tepian sungai Kahayan merupakan jalur hijau.

Kata Kunci:  Karakteristik Arsitektural, Ruang Terbuka Hijau

[Download Fulltext PDF File]