JURNAL ARSITEKTUR – STUDI POTENSI MATERIAL BAMBU DAN RE-MATERIAL MODULAR UNTUK DESAIN RUMAH MURAH YANG BERKELANJUTAN – STUDI KASUS PERMUKIMAN DANAU SEHA KOTA PALANGKARAYA – KALIMANTAN TENGAH

Ave Harysakti 1), Sholehah 2)

1) Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Palangkaraya

2) Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Kalimantan Utara

Abstraksi:

Penurunan kualitas visual Kota Palangkaraya akibat adanya Permukiman Danau Seha di tepian Sungai Kahayan yang terlihat kumuh dan acak. Untuk itu perlu dicarikan solusi agar keberadaan permukiman tersebut tidak merusak wajah kota. Selain relokasi, alternatif lainnya adalah perbaikan kualitas visual lingkungan, yaitu memperbaiki tampilan bangunan sekaligus menerapkan prinsip-prinsip arsitektur berkelanjutan. Pada penelitian ini digunakan metode Rasionalistik-Normatif, yaitu menyusun kerangka konsep berdasarkan penelitian terdahulu untuk dikembangkan dalam pemodelan bangunan Rumah Murah Berkelanjutan. Hasil dari penelitian ini diperoleh model awal dari bangunan Rumah Murah lengkap dengan fitur-fitur berkelanjutannya, dimana diperoleh faktor-faktor konsiderasi untuk diteliti lebih lanjut. Faktor-faktor tersebut antara lain: jenis bambu lokal Kalimantan Tengah yang cocok untuk konstruksinya, detail struktur dan konstruksi yang tepat, pengujian efisiensi energi dan tanggap iklim dari model, biaya konstruksi keseluruhan, dan lain-lain.

Kata Kunci : Perancangan Arsitektur Berkelanjutan, Rumah Murah Berkelanjutan, Material Bambu, Material Daur Ulang

[Download Fulltext PDF File]


JURNAL ARSITEKTUR – RUMAH USONIAN SEBAGAI PENERAPAN ARSITEKTUR ORGANIK FRANK LLOYD WRIGHT

Titiani Widati 1)

1) Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Palangkaraya

Abstraksi:

Rumah Usonian merupakan bagian sebuah konsep Arsitektur Frank Lloyd Wright yang lebih luas, yaitu Broad-Acre City. Tetapi proyek Broad-Acre City tidak pernah direalisasikan sedangkan Rumah Usonian dibangun secara terpisah sebagai sebuah rumah. Dalam periodisasi Arsitektur Frank Lloyd Wright, rumah Usonian menjadi wujud perpaduan antara perkembangan bentuk arsitektural dengan prekembangan sistem konstruksi. Penelitian ini meliputi kajian sejarah rumah Usonian dan hubungannya dengan Arsitektur Organik yang dikembangkan oleh tokoh Arsitek Frank Lloyd Wright.

Kata Kunci : Rumah Usonian, Arsitektur Organik, Frank Lloyd Wright

[Download Fulltext PDF File]


JURNAL ARSITEKTUR – POLA RUANG IBUKOTA KECAMATAN BANAMA TINGANG KABUPATEN PULANG PISAU

Lendra 1), Amiany 2)

1) Dosen Tetap Jurusan Sipil Universitas Palangkaraya

2) Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Palangkaraya

Abstraksi:

Permasalahan pada perencanaan kota yang selalu berlanjut dari waktu ke waktu akan tersandung pada perilaku masyarakat yang timbul diluar perencanaan pemerintah. Menyingkapi jamaknya permasalahan perkotaan, menyebabkan timbulnya  menyebabkan bertambahnya kebutuhan akan ruang, sarana dan prasarana. Kabupaten Pulang Pisau adalah salah satu kabupaten pemekaran yg mengalami perkembangan yang cukup tinggi ini, termasuk Kota Bawan yang merupakan ibukota Kecamatan Banama Tingang terletak pada bagian Tengah Sungai Kahayan jalan poros Palangka Raya  –  Kuala Kurun dan memiliki lokasi yang tepatnya terletak di bagian paling utara dari  Kabupaten Pulang Pisau. Potensi pengembangan kota Bawan adalah tersedianya lahan kosong yang cukup besar dengan ditunjang oleh letak kawasan yang cukup strategis dibagian utara kabupaten Pulang Pisau dimana dapat merupakan gerbang pergerakan masyarakat dan barang dari kabupaten tetangga. Ketersediaan lahan kosong yang luas ini memberi peluang yang cukup besar untuk menentukan kebijakan dan pengawasan pengembangan kawasan serta mengurangi konflik akibat dari kesulitan pengaturan penggunaan lahan.  Perkembangan Masyarakat yang terdapat di Ibukota Kecamatan Banama Tingang memiliki adat istiadat dan kebiasaan sehari-hari, sehingga patut diperhatikan pula dalam perngembangan Ibukota Kecamatan ini.

Kata Kunci : Pola Ruang, Ibu Kota Kecamatan, Banama Tingang

[Download Fulltext PDF File]


PENGGUNAAN RUANG PADA TRADISI TARUB DI DESA BOJONG MUNGKID – MAGELANG

Santi Damarsasi 1), Prof.Antariksa 2), Jenny Ernawati,PhD 3)

1) Mahasiswa Magister Arsitektur Lingkungan Binaan Universitas Brawijaya Malang

2) Guru Besar dan Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya Malang

3) Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya Malang

Abstraksi:

Pernikahan tradisional Jawa sering dianggap rumit, kuno dan bahkan mengandung mistis. Masyarakat perkotaan memiliki keterbatasan waktu dan ruang, sehingga ketika melaksanakan hajat pernikahan lebih memilih meggunakan jasa WO (Wedding Organizer) dan gedung resepsi. Pada perkembangannya, pemilihan WO dan gedung resepsi tersebut menjadi tolok ukur status sosial dan ekonomi. Elemen dekoratif juga menjadi ukuran kemewahan. Itu adalah fenomena yang terjadi di perkotaan, bagaimana dengan pernikahan tradisional Jawa di pedesaan? Masyarakat pedesaan, terutama desa Bojong Mungkid Magelang masih memiliki tradisi gotong-royong salah satunya saat mempersiapkan pernikahan yang disebut dengan tarub. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan ruang tarub terbentuk dari aktivitas dan pelaku yang sesuai dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat yang mayoritas sebagai petani.

Kata Kunci : Penggunaan Ruang, Ruang Tradisi, Tradisi Tarub

[Download Fulltext PDF File]


JURNAL ARSITEKTUR – PENGARUH KONDISI HUNIAN DAN LINGKUNGAN TERHADAP KEBERLANJUTAN PERMUKIMAN TEPI SUNGAI STUDI KASUS KAMPUNG PAHANDUT DAN DESA DANAU TUNDAI DI KOTA PALANGKA RAYA

Indrabakti Sangalang 1), Fredyantoni F. Adji 2)

1) & 2) Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Palangkaraya

Abstraksi:

Permukiman merupakan kumpulan hunian yang penghuninya saling bersepakat baik formal maupun informal untuk membentuk komunitas. Hubungan sosial budaya, kemampuan beradaptasi serta membangun relasi dan kondisi lingkungan fisik pada permukiman seperti hunian dan fasilitas pendukungnya sangat mempengaruhi perkembangan permukiman yang terkendali dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat yang tinggal berdasarkan pada kearifan lokal (local wisdom). Banyak permukiman yang tidak berkembang atau berkembang tidak terkendali ketika unsur-unsur yang berpengaruh tersebut kurang diperhatikan. Berdasarkan hal-hal tersebut menunjukkan pentingnya penelitian untuk menggali faktor-faktor apa saja yang dapat membuat permukiman tetap mengalami berkelanjutan dan dilain sisi juga mengidentifikasi faktor-faktor lain yang terindikasi akan menghambat perkembangan sebuah permukiman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kampung Pahandut kebutuhan ekonomi menjadi dasar bertambahnya pendatang dan tumbuhnya rumah-rumah baru, sedangkan penghambat keberlanjutan permukiman adalah kondisi kawasan tepi sungai yang semakin dangkal dan menyempit akibat sedimentasi. Di Desa Danau Tundai, pertumbuhan rumah-rumah disebabkan faktor kekerabatan dan Danau Tundai yang kaya ikan, sedangkan faktor penghambat keberlanjutan permukiman adalah jika produksi ikan menurun dan belum adanya inovasi baru. Di Kampung Pahandut jika melihat ketiga aspek keberlanjutan terlihat jelas kegiatan ekonomi yang makin meningkat membuat aspek lainnya yaitu sosial budaya dan lingkungan mengalami kemunduran. Desa Danau Tundai, aspek ekonomi berjalan lambat perkembangannya sedangkan aspek sosial budaya dan lingkungan berpotensi untuk mengalami keberlanjutan sepanjang belum ada perubahan yang signifikan.

Kata Kunci : Permukiman tepi air, berkelanjutan, hunian, lingkungan, kearifan budaya

[Download Fulltext PDF File]