JURNAL ARSITEKTUR – POLA RUANG IBUKOTA KECAMATAN BANAMA TINGANG KABUPATEN PULANG PISAU

Lendra 1), Amiany 2)

1) Dosen Tetap Jurusan Sipil Universitas Palangkaraya

2) Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Palangkaraya

Abstraksi:

Permasalahan pada perencanaan kota yang selalu berlanjut dari waktu ke waktu akan tersandung pada perilaku masyarakat yang timbul diluar perencanaan pemerintah. Menyingkapi jamaknya permasalahan perkotaan, menyebabkan timbulnya  menyebabkan bertambahnya kebutuhan akan ruang, sarana dan prasarana. Kabupaten Pulang Pisau adalah salah satu kabupaten pemekaran yg mengalami perkembangan yang cukup tinggi ini, termasuk Kota Bawan yang merupakan ibukota Kecamatan Banama Tingang terletak pada bagian Tengah Sungai Kahayan jalan poros Palangka Raya  –  Kuala Kurun dan memiliki lokasi yang tepatnya terletak di bagian paling utara dari  Kabupaten Pulang Pisau. Potensi pengembangan kota Bawan adalah tersedianya lahan kosong yang cukup besar dengan ditunjang oleh letak kawasan yang cukup strategis dibagian utara kabupaten Pulang Pisau dimana dapat merupakan gerbang pergerakan masyarakat dan barang dari kabupaten tetangga. Ketersediaan lahan kosong yang luas ini memberi peluang yang cukup besar untuk menentukan kebijakan dan pengawasan pengembangan kawasan serta mengurangi konflik akibat dari kesulitan pengaturan penggunaan lahan.  Perkembangan Masyarakat yang terdapat di Ibukota Kecamatan Banama Tingang memiliki adat istiadat dan kebiasaan sehari-hari, sehingga patut diperhatikan pula dalam perngembangan Ibukota Kecamatan ini.

Kata Kunci : Pola Ruang, Ibu Kota Kecamatan, Banama Tingang

[Download Fulltext PDF File]

PENGGUNAAN RUANG PADA TRADISI TARUB DI DESA BOJONG MUNGKID – MAGELANG

Santi Damarsasi 1), Prof.Antariksa 2), Jenny Ernawati,PhD 3)

1) Mahasiswa Magister Arsitektur Lingkungan Binaan Universitas Brawijaya Malang

2) Guru Besar dan Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya Malang

3) Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya Malang

Abstraksi:

Pernikahan tradisional Jawa sering dianggap rumit, kuno dan bahkan mengandung mistis. Masyarakat perkotaan memiliki keterbatasan waktu dan ruang, sehingga ketika melaksanakan hajat pernikahan lebih memilih meggunakan jasa WO (Wedding Organizer) dan gedung resepsi. Pada perkembangannya, pemilihan WO dan gedung resepsi tersebut menjadi tolok ukur status sosial dan ekonomi. Elemen dekoratif juga menjadi ukuran kemewahan. Itu adalah fenomena yang terjadi di perkotaan, bagaimana dengan pernikahan tradisional Jawa di pedesaan? Masyarakat pedesaan, terutama desa Bojong Mungkid Magelang masih memiliki tradisi gotong-royong salah satunya saat mempersiapkan pernikahan yang disebut dengan tarub. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan ruang tarub terbentuk dari aktivitas dan pelaku yang sesuai dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat yang mayoritas sebagai petani.

Kata Kunci : Penggunaan Ruang, Ruang Tradisi, Tradisi Tarub

[Download Fulltext PDF File]

JURNAL ARSITEKTUR – PENGARUH KONDISI HUNIAN DAN LINGKUNGAN TERHADAP KEBERLANJUTAN PERMUKIMAN TEPI SUNGAI STUDI KASUS KAMPUNG PAHANDUT DAN DESA DANAU TUNDAI DI KOTA PALANGKA RAYA

Indrabakti Sangalang 1), Fredyantoni F. Adji 2)

1) & 2) Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Palangkaraya

Abstraksi:

Permukiman merupakan kumpulan hunian yang penghuninya saling bersepakat baik formal maupun informal untuk membentuk komunitas. Hubungan sosial budaya, kemampuan beradaptasi serta membangun relasi dan kondisi lingkungan fisik pada permukiman seperti hunian dan fasilitas pendukungnya sangat mempengaruhi perkembangan permukiman yang terkendali dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat yang tinggal berdasarkan pada kearifan lokal (local wisdom). Banyak permukiman yang tidak berkembang atau berkembang tidak terkendali ketika unsur-unsur yang berpengaruh tersebut kurang diperhatikan. Berdasarkan hal-hal tersebut menunjukkan pentingnya penelitian untuk menggali faktor-faktor apa saja yang dapat membuat permukiman tetap mengalami berkelanjutan dan dilain sisi juga mengidentifikasi faktor-faktor lain yang terindikasi akan menghambat perkembangan sebuah permukiman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kampung Pahandut kebutuhan ekonomi menjadi dasar bertambahnya pendatang dan tumbuhnya rumah-rumah baru, sedangkan penghambat keberlanjutan permukiman adalah kondisi kawasan tepi sungai yang semakin dangkal dan menyempit akibat sedimentasi. Di Desa Danau Tundai, pertumbuhan rumah-rumah disebabkan faktor kekerabatan dan Danau Tundai yang kaya ikan, sedangkan faktor penghambat keberlanjutan permukiman adalah jika produksi ikan menurun dan belum adanya inovasi baru. Di Kampung Pahandut jika melihat ketiga aspek keberlanjutan terlihat jelas kegiatan ekonomi yang makin meningkat membuat aspek lainnya yaitu sosial budaya dan lingkungan mengalami kemunduran. Desa Danau Tundai, aspek ekonomi berjalan lambat perkembangannya sedangkan aspek sosial budaya dan lingkungan berpotensi untuk mengalami keberlanjutan sepanjang belum ada perubahan yang signifikan.

Kata Kunci : Permukiman tepi air, berkelanjutan, hunian, lingkungan, kearifan budaya

[Download Fulltext PDF File]

JURNAL ARSITEKTUR – PELESTARIAN ARSITEKTUR TRADISIONAL DAYAK PADA PENGENALAN RAGAM BENTUK KONSTRUKSI DAN TEKNOLOGI TRADISIONAL DAYAK DI KALIMANTAN TENGAH

Tari Budayanti Usop 1)

1) Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Palangkaraya

Abstraksi:

Kalimantan Tengah merupakan salah satu daerah yang dikenal dengan kekhasan seni dan budayanya, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Kalimantan Tengah sangat dikenal dengan suku Dayak atau suku bangsa seperti Ngaju, Ot-Danum, Ma-ayan, Ot-Siang, Lawangan, Katingan, dan sebagainya. Berbagai seni dan budaya yang dikenal dengan adat istiadat, sistem kekerabatan ambilineal, permainan anak negeri, bahasa daerah, rumah adat, dan sebagainya. Asas yang dianut adalah asas kekeluargaan dan kebersamaan yaitu Budaya Betang (hidup berdampingan dalam satu atap) dan gotong royong (saling haduhup). Namun, fenomena yang tejadi sekarang adalah mulai adanya pergeseran sosial masyarakat Dayak. Hal tersebut, tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya.Pertama, kemajuan teknologi komunikasi yang membuat manusia hidup dalam kepraktisan. Kedua, pengaruh budaya asing (westerrnisasi). Ketika kebudayaan asing mempengaruhi masyarakat Dayak salah satunya moderenisasi. Modernisasi telah mengubah kehidupan tradisional Dayak. Hal tersebut, dapat dilihat dari bangunan-bangunan yang terdapat di Kalimantan Tengah. Salah satu bangunan tersebut adalah Rumah (huma) Betang. Huma Betang yang memiliki seni ukiran dengan motif khusus Dayak yang berorientasi pada alam, dan hewan dimana orang jaman dulu menandakan hidup dekat dengan alam, sebuah filosofi hidup yang unik yang patut dilestarikan. Pandangan hidup jaman dulu patut dijadikan sebagai panutan dan pelajaran hidup bagi manusia dan individu. Huma Betang yang memiliki penamaan khusus tentang sistem konstruksi teknologi pada bangunanpun sudah mulai dilupakan, digantikan dengan nama-nama sistem konstruksi dalam bahasa Indonesia, padahal penamaan konstruksi dalam bahasa Dayak sendiri lebih kaya makna dan arti, yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia yang lebih umum. Penelitian ini dilaksanakan di desa Buntoi dan di Tumbang Malahoi, desa yang memiliki rumah Adat yang khas yaitu Betang Buntoi dan Malahoi, dijadikan sebagai objek penelitian dan di analisa sintesa, Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan menggunakan deskriptif kualitatif yang bersifat observasi lapangan (research field), dan wawancara dengan nara sumber terkait yang memahami tentang sistem kontruksi dan Teknologi Dayak Kalimantan Tengah, dimana pengolahan data langsung pada lokasi penelitian untuk menemukan berbagai pembuktian-pembuktian yang akan diteliti.

Kata Kunci : Pelestarian Arsitektur, Arsitektur Tradisional Dayak, Betang

[Download Fulltext PDF File]

JURNAL ARSITEKTUR – KARAKTERISTIK ACTIVITY SUPPORT PADA RUANG PUBLIK PENGGAL JALAN YOS SUDARSO PALANGKA RAYA

Elis Sri Rahayu 1)

1) Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Universitas Palangkaraya

Abstraksi:

Koridor jalan Yos Sudarso merupakan sebuah jalan utama di Kota Palangka Raya yang merupakan sebuah jalan yang memiliki nilai historis yng tinggi dalam kaitan terbentuknya kota Palangka Raya. Keberadaan activity support di koridor jalan Yos Sudarso Palangka Raya memberikan pengaruh terhadap terhadap ruang publik koridor jalan tersebut. Pada waktu pagi hingga siang hari activity support tidak ada di koridor jalan Yos Sudarso , sehingga sebagai jalan utama Kota Palangkaraya, jalan Yos Sudarso memberikan image atau kesan yang sangat mendukung kewibawaan pemerintahan, dimana terdapatnya kantor-kantor pemerintahan di sepanjang koridor jalan. Saat sore hingga malam hari kondisi jalan Yos Sudarso menjadi sebuah jalan yang berbeda karena keberadaan activity support (pendukung kegiatan yang hidup dan memberikan suasana berbeda dari kondisi pada siang hari. Dalam penelitian ini menggunkan beberapa teori urban design yang berguna dalam upaya mengetahui karakteristik activity support yang ada pada ruang publik baik fisik maupun non fisik. Dalam penelitian ini pada hakekatnya dimaksudkan untuk mengangkat fakta, keadaan, variabel dan fenomena-fenomena yang terjadi saat sekarang ketika penelitian berlangsung dan menyajikan dalam bentuk data-data yang bisa di analisa dengan kajian deskripsi.

Kata Kunci : Jalan Yos Sudarso Palangka Raya, Activity Support, Ruang Publik

[Download Fulltext PDF File]